Rabu, 09/08/2017 16:53 WIB

Demang Loetan, Sang Politisi Volksraad dari Lereng Marapi

Mochtar Naim

Mochtar Naim

OLEH Mochtar Naim (Cendekiawan dan Sosiolog)

LEWAT sedikit dari Pasar Koto Baru, dan Stasiun kereta api yang masih berdiri sebelah kanannya, di ketinggian 1.400 m, saat kita menuju Bukittinggi dari arah Padang Panjang, ada jalan yang membelok ke kanan yang berkelok dan menanjak menuju Nagari Batu Palano. Dari Batu Palano ini kita bisa terus ke Nagari Sariak-Sungai Pua. Lalu ke kirinya ke Kubang Putiah-Banuhampu, dan terusnya ke Kurai-Bukittinggi. Dari Sungai Pua tadi kita bisa terus ke Lasi-Bukik Batabuah dan Ampek Angkek-Canduang yang nantinya sampai di Baso untuk terus ke Payakumbuh. Sementara dari Bukittinggi pun kita bisa ke Payakumbuh melalui jalan utama lewat Ampek-Angkek-Canduang dan Baso tadi.

Apa yang terbayang oleh kita dan kita lihat sendiri ketika masih berada di Batu Palano tadi? Batu Palano sendiri sampai ke Sariak-Sungai Pua, sampai ke Lasi-Bukik Batabuah terletak memanjang di pinggang Gunung Marapi, dengan pemandangan yang indah menawan ke bawahnya, yang terhampar nagari-nagari Agam Tuo, termasuk IV Koto, Tilatang-Kamang, Ampek Angkek-Canduang, Kurai-Banuhampu dan Kota Bukittinggi di tengah-tengahnya.

Sementara di sebelah kiri di Batu Palano, ke seberangnya, menanjak lagi ke atas ke puncaknya, terbentang pula Gunung Singgalang, dengan Gunung Tandikek di belakangnya, yang membikin nagari-nagari di Agam Tuo dan Bukittinggi di tengah-tengahnya menjadi pesona alam dataran tinggi yang sangat indah dan menakjubkan itu.

Entah ada kaitannya dengan keindahan alam di dataran tinggi Agam Tuo ini, entah tidak, tapi semua orang tahu bahwa nagari-nagari di dataran tinggi Agam Tuo, yang Kota Bukittinggi terletak di tengah-tengahnya itu, telah menghasilkan banyak pentolan bangsa yang menonjol dalam berbagai kegiatan yang mereka masuki.

Semasa dengan Demang Loetan (1884-1941), sebelum Perang Dunia Kedua, dan masih di zaman penjajahan Belanda, dari dataran tinggi Agam Tuo ini saja sudah muncul nama-nama tenar seperti Hatta, Agus Salim, Syahrir, Assaat, Agus Halim, Sirajuddin Abbas, Abdul Muis, Khairul Saleh, Syekh Ibrahim Musa, Syekh Sulaiman Ar Rasuli, Syekh Jamil Jambek, AK Gani, Dt Palimo Kayo, Gaffar Ismail, Ali Akbar, Inyiak Abdul Muin.

Jika kita turun melalui Kelok 44 ke Maninjau kita temukan tidak kurangnya banyak pula pentolan bangsa yang lahir di sekitar Danau Maninjau itu, termasuk Buya Hamka, Inyiak De Er, Rasuna Said, Mohd Natsir, Isa Anshary, Nazir Pamuncak, dsb. Dan kalau kita lintasi bukit Kamang ke arah Koto Tinggi-Suliki, ada pula Tan Malaka dan lain-lain di sana.

Di Nagari Batu Palano sendiri, di pinggang Gunung Merapi, yang sudah berada di ketinggian 1.500 m, dengan pemandangan nan indah-menawan ke dataran tinggi Agam Tuo di bawah dan di hadapannya, ialah tempat lahirnya seorang Demang Loetan yang riwayat hidup dan sepak-terjangnya selaku Demang dan anggota Volksraad dinukilkan dalam buku "Demang Loetan Sang Politisi Volkstraad dari Lereng Marapi".

Demang Loetan, seperti juga dengan banyak pemuka Minang pada waktu itu, sekolah formalnya hanya sekolah dasar saja, tetapi bisa dan pintar berbahasa Belanda, dan pintar pula berbicara politik di Volksraad, yang nama dan prestasinya juga melejit ke mana-mana.

Kenapa bisa begitu? Ternyata, seperti yang dialami oleh Demang Loetan sendiri, belajar itu tidak hanya melalui sekolah secara formal saja. Apalagi sekolah sendiri pada waktu itu masih langka dan hanya anak-anak tertentu yang orang tuanya berduit dan berada atau punya kaitan dengan konstelasi pemerintahan kolonial pada waktu itu, yang punya peluang masuk sekolah formal. Yang selebihnya, belajar dari alam: “Alam terkembang jadikan guru,” kata peribahasa Minang.

Apa lagi, waktu itu, rata-rata anak laki-laki tidur di surau. Bangunnya tidak bangun pagi, tetapi bangun subuh, dan salatnya selalu berjamaah. Dengan pembagian waktu salat yang lima kali sehari inilah mereka menata jadwal kegiatan mereka dari hari ke hari. Dan di surau inilah pula mereka anak laki-laki mendapatkan pengajaran yang sesungguhnya, yang tidak hanya belajar mengaji dan mendengarkan ceramah-ceramah agama, tetapi juga mendapatkan bimbingan rohani dan tingkah laku, atau sekarang disebut "character-building".

Mereka kalau salah dimarahi, kalau bertingkah dilecuti. Tapi kalau berbuat baik dipuji dan disayangi. Yang mengajar mereka bukan hanya ayah dan ibu serta mamak-mamak di rumah tetapi seluruh warga yang tua-tua di kampungnya perduli kepada mereka anak-anak muda itu. Masa pertumbuhan untuk menjadi “orang” inilah yang rata-rata dilalui oleh anak laki-laki Minangkabau sebelum mereka siap untuk pergi merantau.

Lebih dari itu, selagi masih di kampung, mereka juga ikut aktif melakukan usaha-usaha berkampung, apapun corak dan macamnya. Misalnya, ikut bergotong-royong membersihkan surau, jalan-jalan kampung, memperbaiki saluran air untuk ke sawah di musim menanam, ikut ke “darek” yang artinya ke sawah, dari musim membajak sampai ke musim mengirik dan membawa padi pulang.

Semua dikerjakan secara bersama melalui sistem bergotong-royong. Karenanya semangat bersosial dan perduli dengan kepentingan bersama sudah ditanamkan sejak umur masih muda. Dan semangat inilah yang dibawa pergi merantau, yang tiba di rantau, disadari atau tidak disadari, orang Minang dekat dengan masyarakat yang dimasuki. Mereka lalu hidup bergaul dan tidak suka menyendiri.

Bisa dibayangkan, sifat-sifat suka bersosial inilah yang membikin orang Minang di rantau, dan di manapun, cenderung lalu terbiasa jadi pemimpin. Hasilnya adalah nama-nama besar seperti yang dinukilkan di atas.

Namun, sayangnya, masa keemasan dari era Demang Loetan ini sekarang sudah berlalu. Ketika di zaman kemerdekaan ini orang Minang tidak lagi hanya orang Minang tetapi juga orang Indonesia dan bahkan orang dunia, yang Minangnya pudar, yang menonjol adalah Indonesianya.

Sebagai anak Indonesia, mereka mendapatkan pendidikan formal dari SD ke SMP, SMA dan PT. Tidak sedikit yang jadi sarjana, S1, S2 dan S3. Dan tidak hanya di dalam negeri, tetapi juga di luar negeri. Tetapi, seperti yang sudah diduga, yang diisi hanya kepalanya, dengan bermacam ilmu dan kebolehan akademik, tetapi yang hati-sanubarinya nyaris kosong.

Sekolah terutama hanya untuk mendapatkan ijazah untuk cari kerja, yang makin tinggi sekolahnya makin banyak duit dan kesenangan hidup didapatkan. Yang terjadi adalah, karena tujuan utama adalah untuk mendapatkan kesenangan hidup itu, maka segala macam cara juga suka dilakukan, yang tidak hanya yang baik-baik, yang menyerempet ke sana ke mari juga dilakukan.

Seperti yang kita lihat dan rasakan sekarang, berbagai penyimpangan kelakuan sosial terjadi. Korupsi, kolusi dan nepotisme yang tadinya haram dan diharamkan, sekarang merebak dan disukai. Sekarang ini susah sekali mencari pejabat dari atas sampai ke bawah, di bidang apapun, dan di manapun, yang tidak keserempet dengan KKN itu.

Belum pula yang namanya kebejatan moral dalam berbagai bentuk perilaku sosial. Di Sumbar sendiri lokasi hiburan di pantai, di tempat-tempat rekreasi, jadi tempat pemesuman. Belum pula hotel-hotel, penginapan, klub-klub malam, jadi tempat orang melepaskan selera dan hawa nafsunya. Malah nyaris di setiap pesta kawin, orang dihibur dengan musik dan tarian seronok dengan pakaian bugil-bugilan yang menyolok. Dan itu terjadi sampai ke desa-desa yang jauh dari kota, di Sumbar. Masya Allah dan na’udzu billah.

Dalam kita mengingat nama Demang Loetan dan sekian banyak nama-nama generasi seangkatan dengan Demang Loetan, yang mereka rata-rata telah memperlihatkan contoh dan suri-tauladan yang baik, bagaimana kita hidup dan berbuat di dunia ini dalam menjelang ke akhirat nanti, generasi peneruka itu serasa merintih di alam baka mereka. Anak keturunan mereka sekarang ternyata sudah jauh melenceng. Yang diutamakan hanya ilmu, tetapi tidak amal yang baik dan akhlak yang mulia.

Oleh karena itu, waktunya sekarang kita sebagai generasi pelanjut menghidupkan kembali nilai-nilai budaya yang pernah kita jawat dari generasi peneruka yang Demang Loetan ada di dalamnya. Nilai-nilai budaya yang kita warisi itu adalah gabungan sintetis antara budaya adat Minangkabau dan budaya serta ajaran Islam, yang keduanya kita jalin dalam wahana ABS-SBK – “Adat bersendi Syarak, Syarak bersendi Kitabullah. Syarak Mengata, Adat Memakai.”

Dengan itu semoga rakyat, masyarakat dan alam Minangkabau ini kembali bangkit dan jaya kembali, seperti yang diimpikan oleh Demang Loetan dan peneruka lain-lainnya itu. Semoga…! Dan semoga Allahpun membukakan jalan ke jalan yang diridhai-Nya itu, amin! ***

BACA JUGA