Rabu, 09/08/2017 06:38 WIB

Niatlah Berkurban!

OLEH Musfi Yendra (Pembina DD Singgalang)

Sekitar tiga minggu lagi kita akan melaksanakan Hari Raya Besar Islam, Idul Adha. Ada dua ibadah utama yang dilaksanakan pada momentum Idul Adha tersebut yaitu Haji dan Berkurban.

Berhaji bagi yang mampu secara jiwa, ekonomi dan fisik. Sebagian calon jamaah haji kita sudah berangkat dalam minggu ini menuju Makkah.

Semoga mereka ibadah mereka lancar, pulang pergi dengan selamat serta menjadi haji yang mabrur.

Bagi kita yang belum mampu atau menunggu giliran melaksanakan haji, setiap Idul Adha ini dianjurkan untuk berkurban. "Maka dirikanlah Shalat karena Tuhanmu; dan berkurbanlah (Al-Kautsar : 2)". Begitu perintah Allah tentang kurban.

Menyembelih seekor kambing atau domba di hari Tasyrik 11,12 dan 13 Dzulhijjah adalah bentuk persembahan ketaatan dan keikhlasan kita kepada Allah secara vertikal. Menyembelih hewan kurban, diibaratkan kita memotong kesombongan dan ketamakan yang menghinggapi diri selama ini.

Membagikan daging kurban dari sembelihan kepada orang lain adalah bentuk kepeduliaan terhadap sesama sebagai bagian ibadah horizontal. Hablum minallah wa hablum minannas.

Pergi haji kita harus menyiapkan dana lebih besar, sekitar Rp. 35 juta jika berangkat dari Indonesia. Maka kurban seekor kambing nilainya adalah Rp. 2 jutaan. Jika dihitung secara ekonomi, biaya keduanya jauh berbeda.

Tapi jika niat kuat, Allah akan mudahkan jalannya. Kembali soal niat, banyak orang kaya tapi belum sempat berhaji, sebaliknya orang yang hidup pas-pasan, tapi berusaha mewujudkan niat, menabung bertahun-tahun terlaksana juga ibadahnya.

Jika tak ada niat berkurban, maka uang dua jutaan terasa besar. Membeli seekor kambing terasa amat mahal. Padahal membeli pulsa dan paketnya ratusan ribu dalam sebulan terasa enteng saja. Ngopi di coffee shop harga puluhan ribu sekali nongkrong mah biasa.

Beli rokok sehari puluhan ribu pun tak terasa. Padahal aktivitas seperti itu bisa dilakukan kapan saja. Bahkan tak bernilai ibadah.

Waktu berkurban ada ketentuannya. Tak bisa sepanjang waktu. Hanya di Hari Tasyrik saja. Belum tentu juga kita akan ketemu di bulan Dzulhijjah tahun depan. Apa yang kita tunggu, kawan? Berniatlah sekuat hati. Pasti kita bisa! (*)

BACA JUGA