Minggu, 18/06/2017 11:05 WIB

Yusran Nasution, Sopir Bus NPM yang Jarang Lebaran Bersama Keluarga

KISAH AWAK BUS LINTAS SUMATERA

Yusran Nasution bersama dengan anaknya saat beristirahat di pol NPM

Yusran Nasution bersama dengan anaknya saat beristirahat di pol NPM

Sejak 1990-an, ia sudah menjalani kehidupan di jalanan lintas Sumatera sebagai sopir bus NPM, sebuah perusahaan oto yang tertua di Sumatera Barat. Nama sopir itu, Yusran Nasution.

Pria ramah ini, merasa gembira setiap jelang Hari Raya Idulfitri datang. Kegembiraan itu hadir karena para perantau Minang banyak yang pulang kampung menggunakan jasa kendaraan angkutan darat, termasuk NPM tentunya. Bagi Yusran, ramainya perantau pulang, tentu itu jadi berkah terutama bagi dirinya, juga perusahaan oto (PO) NPM tempat ia selama ini mengabdi.

Setiap jelang Lebaran itu pula, aktivitasnya meningkat. Kendaraan oto yang dibawa Yusran, bisa saja "balik kanan" di polnya karena mengejar penumpang yang menggunakan jasa perusahaanya pulang kampung.

"Perantau Minang yang pulang kampung menggunakan jasa kendaraan NPM cukup banyak, baik itu yang berdomisili di Jakarta dan sekitarnya, maupun di Bandung, Semarang, dan kota-kota lainnya di Sumatera seperti Medan, Aceh. Makanya, kami lamgsung berangkat," kata Yusran kepada sumbarsatu.com, Minggu (18/6/2017) lewat sambungan telepon.

Tentu saja, karena besarnya tanggung jawab yang diberikan kepadanya, Yusran rela meninggalkan keluarganya di saat-saat penhujung Ramadan.

"Kini saya sedang berada di daerah Kota Bumi Lampung dalam perjalanan menuju Sumatera Barat. Saya bawa perantau Minang penuh," katanya.

Pria yang akrab disapa Mamak ini mengatakan bahwa ini merupakan trip keempatnya "putar kepala" semenjak Ramadan masuk. Yusran mengatakan begitu sampai d ikota tujuan ia bersama dua rekan yang mengoperasikan bus hanya punya waktu satu hari atau semalam untuk menyiapkan kembali bus berangkat ke kota berikutnya. Persiapan tersebut meliputi membersihkan bus luar dalam, pemeriksaan kondisi bus serta perbaikan jika diperlukan.

Lebih lanjut Yusran mengisahkan, ia tidak bisa berkumpul berlebaran bersama keluarga merupakan hal lumrah bagi dirinya dan rekan-rekan pengemudi lain.

"Jauh dari keluarga dan tak bisa bersama istri dan anak-anak secara utuh merupakan pengorbanan terberat bagi kami. Tapi itu biasa. Dengan alat komunikasi yang canggih kita bisa menemui anak-anak dan istri lewat pembicaraan di telepon genggam," ucap Yusran.

Terkadang, untuk melepas kerinduan, sering istri dan anak-anak mereka menemui sang ayah di sela tugasnya dengan membawakan penganan Lebaran ke pol bus atau terminal saat ayahnya transit menaik dan menurunkan penumpang. "Walau tak bisa lama, tapi cukuplah untuk "malapeh taragak."

Ia menceritakan juga pengalamannya terkait dengan tingkah laku penumpang yang beragam itu. Ia sebutkan ada yang menjengkelkan, ada yang menyenangkan, dan macam-macam.

"Tapi yang jelas semuanya itu kita layani dengan baik dan tetap menjaga kenyamanan penumpang kendati ada penumpang yang lebih menonjolkan egonya sendiri. Itu biasa kok," katanya lagi.

Walaupun begitu, tambah Yusran, sesuatu hal yang paling membanggakan itu adalah kekompakan dan rasa kebersamaan antar awak bus tanpa membedakan perusahaan busnya.

"Kekompakan dan kebersamaan awak bus di jalanan ini sampai sekarang masih bertahan. Pada saat mudik Lebaran ini, kebersamaan itu terlihat sekali. Kami akan selalu konvoi dan bersama di jalan karena kita berprinsip "di jalan kita beririgan, di rumah makan kita berteman, dan di terminal kita berebut penumpang," katanya.

Saat ia menceritakan kisahnya ini, Yusran mengaku sedang dalam perjalanan beriringan dengan enam bus NPM lainnya serta beberapa mobil pribadi perantau Minang yang hendak pulang kampung.

"Berangkat beriringan ini sangat besar manfaatnya, terutama kendaraan pribadi karena bisa saling bantu jika terjadi sesuatu yang tak diinginkan. Selain itu, kendaraan pribadi perantau juga banyak yang kurang hapal jalan lintas Sumatera. Jika berombongan dengan bus umum, tentu akan mudah," tambahnya. (FEN)

BACA JUGA