Jum'at, 16/06/2017 22:01 WIB

Petani Ikan dan Nelayan Tangkap di Kecamatan Tanjung Raya Merana

KJA Muaro Tanjung

KJA Muaro Tanjung

Agam, sumbarsatu.com- Sejak meningkatnya Kematian ikan di Danau Maninjau, Kecamatan Tanjung Raya, Kabupaten Agam, kehidupan petani ikan dan melayan tangkap kian merana.

Salah satu Kelompok budi daya ikan, yang paling mampu bertahan selama ini, Muaro Tanjung, Nagari Koto Kaciak, kini anggotanya mengeluh berat. Pasalnya, air Danau Maninjau sudah tidak bersahabat lagi dengan mereka. Ikan alam keramba jala apung (KJA) tidak lagi menjanjikan keuntungan, seperti dulu.

Menurut pemuka setempat, yang juga salah seorang pengurus kelompok, ErmanTanjung, dari sekitar 1.500 petak KJA milik anggota kelompok, hanya sekitar 50 persen yang diisi benih ikan. Itu pun dengan kapasitas 50 persen pula.

“Dalam keadaan normal, sepetak KJA diisi 10.000 ekor benih ikan nila. Namun kini hanya diisi 5.000 ekor, dan sampai panen paling banyak yang hidup 1.000 ekor.

Bahkan, kini sudah ada anggota kelompok yang mengalihkan usaha mereka ke sektor pertanian tanaman pangan, seperti bersawah dan berladang.

“Bertahan dengan usaha KJA, sma saja dengan menunggu kehancuran pelan-pelan. Lebih baik bangkit dengan usaha lain,” ujarnya, dengan suara lemah.

Yang menyedihkan, bagi anggota kelompok yang tidak memiliki lahan pertanian. Mau beralih ke darat pun tidak memungkinkan. Mereka mencoba beralih menjadi nelayan tangkap.

Ada yang mamukek, dan ada pula yang menangkap bada menggunakan bagan bada. Namun hasilnya juga tidak memuaskan. Mereka hanya sekedar bertahan hidup, sambil menunggu dan berharap agar air danau cepat pulih seperti semula.

Ikan di Danau Maninjau sudah banyak yang punah. Yang bertahan dan berkembang dengan baik hanya jenis patin. Ikan jenis ini pemasarannya sulit. Sementara rinuak dan pensi sudah menghilang.

“Kami, bila mau makan pensi, harus ke Lubuk Basung. di sana pensi berkembang di aliran bandar irigasi dan kali,” ujarnya pula. (MSM)

BACA JUGA